Seperti Minyak, Data pun Perlu Diolah

23 Nov 2020 5 Minutes reading

“Data is the New Oil”. Kutipan tersebut tidak asing di telinga kita. Namun apakah memang benar seperti itu? Kalau begitu, bagaimana cara supaya bisa menjadi “raja minyak”?

Mundur sedikit ke tahun 2011, itulah pertama kali istilah revolusi industri 4.0 dipergunakan secara publik. Tepatnya, saat momen pameran industri Hannover Messe di Jerman. Sebelumnya, ponsel merek Nokia bentuk daun dianggap sebagai inovasi teknologi tercanggih pada masanya. Pengembangan teknologi digital disusul dengan internet menjadi penemuan terbesar dalam revolusi industri 4.0.

Revolusi tahap keempat ini mendorong laju penetrasi internet semakin meningkat. Selain itu, dia juga memunculkan teknologi baru seperti Internet of Things, Cloud Computing, Big Data, dan Artificial Intelligence yang semuanya memberikan disrupsi industri lain di dunia. Di Indonesia, Prof. Rhenald Khasali mengambil peran dalam gaungan revolusi industri 4.0 ini dengan meluncurkan buku berjudul “Disruption”. Buku itu menjelaskan bagaimana bisnis yang sebelumnya besar bisa jatuh seketika karena diserang economic disruption, efek dari revolusi industri 4.0. 

Contoh yang paling ramai diperbincangkan adalah ketika nilai saham Garuda Indonesia lebih rendah dibandingkan nilai Gojek, perusahaan baru yang bahkan tidak punya aset. Gojek tidak hanya juara mengalahkan pesawat, taksi konvesional berwarna biru itu juga kalah telak. Penumpang lebih memilih taksi online yang lebih aman dan murah katanya.

Kesuksesan Gojek dan startup lain tak lain karena mereka mampu keep up with technology. Mereka mampu memanfaatkan data untuk mengembangkan bisnis. Misalnya data mengenai tren pasar yang dipakai dalam strategi peluncuran produk. Buat pemasar, data berguna sebagai acuan pemasangan iklan, rekomendasi produk tepat sasaran, dan pelayanan konsumen yang cepat tanggap karena data customer tersimpan dengan baik. 

Kembali lagi pada tagline diatas tentang data is the new oil. Rasanya masuk akal bila ojek online dapat mengalahkan pesawat terbang dan ribuan armada taksi karena perusahaan ini memanfaatkan data untuk perkembangan bisnisnya. Kutipan 5 kata itu pertama kali muncul pada 2006 silam, disampaikan oleh ahli matematika dari UK, Clive Humby. Berikut kutipan lengkapnya:

“Data is the new oil. It’s valuable, but if unrefined it cannot really be used. It has to be changed into gas, plastic, chemicals, etc. to create a valuable entity that drives profitable activity; so must data be broken down, analyzed for it to have value.”

“Data adalah minyak baru. Ini berharga, tetapi jika tidak dimurnikan, itu tidak dapat digunakan. Itu harus diubah menjadi gas, plastik, bahan kimia, dll. Untuk menciptakan entitas berharga yang mendorong kegiatan yang menguntungkan; jadi data harus dipecah, dianalisis untuk memiliki nilai. ""

Minyak harus diolah supaya bermanfaat dan nilainya meningkat. Begitu pula dengan data. Memiliki data tidak serta merta menjadi “raja data”. Gojek tidak serta merta menguasai pasar hanya karena memiliki data. Namun strategi dan evaluasi dilakukan dengan riset berdasarkan data sehingga menghasilkan keputusan valid. Maka dari itu, diperlukan keahlian dan tools mumpuni untuk pengolahan data. Selain skill, tujuan adalah hal fundamental yang perlu dimiliki dalam pengolahan data. 

Data adalah sang minyak mentah, data bisa berwujud apapun. Berikut saya buat analogi tentang pemanfaatan data pada retail. Ceritanya, sebuah toko yang menjual pakaian anak kecil memanfaatkan data untuk mengembangkan bisnisnya. 

  • Toko meminta nomor HP pelanggannya (dari toko offline). Tujuannya adalah untuk membagikan informasi barang baru atau promo.
  • Tidak hanya membuka toko secara offline, toko juga membuka toko online di berbagai marketplace. Tujuannya adalah untuk memperluas pasar. Setiap marketplace memiliki report penjualan yang dapat dimanfaatkan.
  • Toko melakukan pendataan stok secara sederhana dan mencatat penjualan setiap harinya. Tujuannya adalah untuk mengetahui jenis pakaian yang paling laku, dalam jangka Panjang (missal 1 tahun) dapat melihat pola waktu penjualan tinggi atau rendah.
  • Setiap mendekati idul fitri, toko tersebut melakukan riset pasar tentang tren fashion anak yang disenangi.

Dari ilustrasi di atas, secara sederhana, dapat dibayangkan bahwa bila toko yang dulunya berjualan secara konvensional, lalu go-online akan dapat mempengaruhi penghasilan secara signifikan. Berbicara tentang data, kita tidak perlu memikirkan hal besar. Info kecil seperti nomor HP, catatan penjualan harian, atau hasil riset pasar, semuanya itu adalah data yang bisa kita oleh.

Agar laju bisnis berkembang pesat, maka kita perlu strategi tepat, usaha tekun, dan menggunakan data sebagai salah satu parameter pengambilan keputusan. Kutipan data is the new oil tentu saja sudah dibuktikan oleh para start up yang berkembang pesat menyalip pendahulunya. Mereka adalah sang raja minyak 4.0!"

Some CTA to lead

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

#Data for Business