Mengenal OKR Part 2 [FINAL]

24 Nov 2020 5 Minutes reading
Di artikel sebelumnya Kami mengulas apa itu OKR dan cerita awal mula sistem ini ditemukan hingga sekarang banyak diimplementasikan oleh raksasa teknologi dunia. Nah, kali ini Kami menguraikan bagaimana OKR bisa membantu perusahaan agar fokus dan bekerja secara efektif dalam mencapai tujuan. Google mulai menggunakan OKR pada 1999. Saat itu karyawannya masih berjumlah 60 orang. Hingga kemudian Larry Page kembali memimpin Google pada 2011, ternyata jumlah karyawannya tumbuh sepuluh kali lipat menjadi lebih dari 32.000 orang. Empat tahun kemudian saat Google menata ulang dirinya menjadi Alphabet, total pegawai perusahaan itu meningkat dua kali lipat menjadi 61.814 orang. Berikutnya di 2018 total kayrawan naik lagi menjadi 89.000 orang. Ketika para founder secara resmi menarik diri dari peran formal sebagai CEO dan President pada Desember 2019, akhirnya Alphabet mengangkat Sundar Pichai sebagai CEO baru. Mereka mengklaim memiliki lebih dari 114.000 karyawan. Sepanjang 20 tahun mencapai pertumbuhan yang sangat pesat itu, Google tetap bertahan dengan sistem OKR sampai saat ini. Tentunya bukan hanya OKR, masih ada faktor lain yang menjadikan Google sebagai raksasa di bidang teknologi dunia. Namun dari sini Kita bisa menilai bahwa OKR menjadi satu tool yang sangat efektif untuk pengembangan startup hingga 1000 kali lebih besar. Perlu diingat, meski OKR bukan solusi atas seluruh pencapaian goal perusahaan, namun dia menjadi jalan untuk menentukan tujuan yang mau dicapai, bukan sistem evaluasi kinerja individual. Tujuan implementasi OKR dirumuskan menjadi beberapa poin: 1.Pemetaan progres anggota tim agar sesuai dengan objective bersama 2.Prioritas fokus yang jelas untuk mencapai objective di tiap kuartal 3.Komunikasi lebih efisien dengan anggota tim 4.Mendorong transparansi dalam budaya perusahaan Bagi perusahaan atau organisasi yang sebelumnya tidak punya manajemen tujuan atau hanya fokus pada metrik dan KPI, maka dengan OKR akan ada perpindahan budaya dari OUTPUT menjadi OUTCOME. Output merupakan hasil langsung yang bisa dirasakan dari suatu proses. Sementara outcome adalah efek jangka panjang dari proses tersebut berupa manfaat atau harapan perubahan. OKR akan menciptakan fokus, transparansi, dan penyelarasan untuk semua pekerjaan dalam perusahaan. Nah, ketiganya itu akan mengarah pada keikutsertaan seluruh karyawan di perusahaan. Sebuah penelitian membagi dua kelompok karyawan. Kelompok satu menggunakan OKR dan kelompok lainnya tidak. Hasilnya, kelompok yang menerapkan OKR punya kinerja jauh lebih efektif dengan peningkatan penjualan. Bagaimana menerapkan OKR ke dalam organisasi perusahaan ataupun startup digital? 1.Brainstorming Merupakan tahap awal bagi seluruh anggota tim untuk bersama merumuskan hal penting yang mau dicapai dalam jangka waktu tertentu, 3 bulan, atau setahun ke depan. Jadi, seluruh karyawan yang ada di perusahaan sama-sama menentukan goal penting apa nih yang mau dicapai selama periode tertentu. 2.Tentukan Objectives Saat menentukan objective, ada baiknya Kita mempertimbangkan beberapa hal. Pertama harus sederhana, jelas dan boleh dibuat ambisius atau diluar batas. Contohnya Google, awal pertama launching Gmail, dia memberikan free storage sekitar 1GB, jauh diatas email provider sejenis waktu itu yang ngasih sekitar 50MB~100MB. Berikutnya, objective harus selaras di tiap level atau scope. Mulai dari organisasi atau perusahaan, divisi atau tim, dan perorangan. Ketiga, objective harus signifikan dan punya dampak besar buat organisasi maupun personal. Terakhir, objective harus konkrit, fokus untuk menghasilkan aksi, membuat kita semangat, dan berlaku dalam jangka waktu cukup lama tanpa berubah sampai setahun atau lebih. 3.Tentukan Key Results Sama halnya dengan objective, key results juga punya beberapa karakteristik. Masing-masing adalah spesifik, bisa berubah kerena terikat oleh waktu (time-bound), agresif tapi tetap realistis, dan terukur atau bisa diverifikasi hasilnya. 4.Tetapkan tim dan owners (tim leader) Meski secara aktual OKR itu milik semua anggota tim, tapi dia harus tetap memiliki owner di semua level. Owner yang dimaksud disini bisa dikatakan sebagai team leader. 5.Pantau progres Untuk mengecek progres, metode komunikasinya bisa tatap muka antara team leader dan anggota, diskusi per tim, dan meeting perusahaan. Melansir dari Atlassian OKR Playbook, dia menggunakan 2 metode untuk melacak progres, yaitu metodi scoring (OKR checkpoint) dan retrospective Source: Bottom-up OKRs: What are some examples? Tayang di laman whatmatters.com OKR part 2, tayang di laman aansetianto.com Atlassian OKR Playbook, tayang di laman atlassian.com

Some CTA to lead

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

#Objective Key Results #OKR