Working from Home Bukan Hal Baru bagi Developer

25 Nov 2020 5 Minutes reading

Sejak diputuskan Indonesia darurat corona, pemerintah menetapkan aturan social distancing. Lembaga pendidikan mengeluarkan aturan belajar dari rumah. Begitu pula dengan sejumlah perusahaan yang ikut memberlakukan kerja dari rumah.

Kerja freelance alias remote working sebenarnya bukan hal baru, terutama bagi kalangan milenial dan generasi Z yang berkarir di perusahaan teknologi. Perusahaan berbasis teknologi digital seperti Traveloka, Gojek, bahkan Google pun ikut merekrut freelancer untuk mengerjakan proyek yang sifatnya tidak permanen.

Faktanya, budaya kerja yang tak terikat oleh tempat dan waktu kian diminati milenial. Melansir laman Marketeers (2/4), data dari Badan Pusat Statistik (BPS) akhir 2018 lalu menunjukkan sebanyak 56,8% warga Indonesia bekerja di sektor informal menjadi wirausaha dan pekerja freelance. Dari data yang masuk, ada 5,89 juta orang yang bekerja lepas. Jumlah pekerja lepas di tahun 2020 dipastikan meningkat.

Dalam proses pengembangan produk, seringkali tim software developer menggunakan metode scrum. Menerapkan scrum pada remote working bukan hal sulit. Apalagi sekarang ada banyak tools atau software yang bisa kita pakai untuk mempermudah komunikasi, koordinasi, atau manajemen pengerjaan task antar tim. Beberapa tools yang bisa dipakai untuk menunjang kerja remote tim developer seperti aplikasi task management atau to do list, aplikasi konversi waktu, aplikasi chatting maupun meeting virtual, dan aplikasi kerja khusus developer.

Implementasi scrum dengan model remote working itu menjadikan pekerja lebih nyaman. Bayangkan enaknya tiap hari kerja dengan suasana baru di rumah, cafe, pantai, taman kota, atau tempat lain. Seringkali seseorang mendapat banyak inspirasi ide baru dan lebih produktif ketika kerja di luar kantor. Remote working memberikan ruang bagi tim software developer & UI/UX designer untuk bebas berkreasi. Mereka bisa pilih cara kerja sendiri, dan bebas mengeksplorasi keahliannya tanpa takut salah. Masing-masing tim yang bisa jadi tersebar di berbagai wilayah tetap bisa saling komunikasi, berkolaborasi, bekerja dengan baik dan mumpuni sehingga bisa tercapai apa yang jadi tujuan bersama.

Dengan begitu, tantangan terbesar remote working bukan soal tools atau teknologi apa yang dipakai, melainkan kepercayaan atau trust. Penerapan scrum untuk remote working akan berbeda di tiap perusahaan. Sebagai contoh di TaniJoy, scrum untuk remote working alurnya sama dengan jam kantor alias office working, hanya saja media yang dipakai berbeda. Kegiatan scrum untuk remote working terbagi menjadi 3. Pertama, standup daily yang dilakukan setiap jam 10 pagi. Kedua, kegiatan mingguan berupa sprint review dan retrospective. Terakhir berupa laporan bulanan, biasanya berupa rangkuman hasil sprint yang sudah dikerjakan, demo pencapaian dan kendala, dan riset kebutuhan ke depan.

Agar tetap optimal dan semua berjalan on the track, ada 3 poin atau tips mengatur diri bagi pekerja remote. Pertama flextime, yaitu mulai kerja lebih awal, selesai lebih cepat, dan tidak terikat jam kerja. Kedua target oriented, yaitu fokus pada pencapaian target atau tujuan bersama. Terakhir communication. Maksudnya tim bisa terbuka menyampaikan langsung jika ada kendala dan hal lain yang perlu didiskusikan.

Some CTA to lead

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

#digital #digital payment #cashless society